- Kegiatan Arak-arakan Se-Surabaya -


Minggu, 15 November 2009,
tak kurang dari 1.500 orang yang berasal dari perwakilan ratusan gereja se-Surabaya mengadakan DOA KELILING/Arak-arakan, untuk memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2009 lalu.

Adapun acara ini merupakan aksi gerakan profetik untuk memberkati kota Surabaya. Menurut salah seorang panitia acarai ini bertujuan untuk mendoakan Surabaya, mengadakan perubahan dimana kota Surabaya yang banyak kekerasan menjadi kota yang penuh kelembutan, menjadi kota persatuan. Seolah memahami maksud hati umatNya yang rindu memberkati kota tercinta, pada hari itu, sejak pagi hingga berakhirnya acara Tuhan menyelubungi langitNya (yang biasanya selalu cerah, panas membakar) dengan mendung yang sejuk.

Hadirnya Eddy Gunawan Santoso (Calon Wali Kota Surabaya), Baktiono (Ketua Komisi D DPRD kota Surabaya), Arif Affandi (Wakil Wali Kota Surabaya) dalam acarai tersebut adalah salah satu bentuk kepedulian pemerintah kota demi terwujudnya kota Surabaya yang aman dan damai. Adalah kemurahan Tuhan sehingga acarai ini mendapat ijin yang cepat dari pemerintah.

Arak-arakan dibuka dengan sambutan oleh Arif Affandi (Wakil Wali Kota Surabaya), dan dilanjutkan dengan penyerahan peta kota Surabaya, pelepasan beberapa balon dan burung merpati untuk kedamaian dari 5 WILAYAH (utara, selatan, timur,tengah, dan barat) sebagai simbol bahwa gereja Tuhan mau menjaga kota dengan berdoa di 5 wilayah tersebut.

Arak-arakan massa bergerak secara profetis dimulai dari Tugu Pahlawan Surabaya, melewati jalan-jalan protokol dan berakhir di halaman Balai Kota Surabaya.

Tampak dalam pawai barisan pendoa, pelajar, pembawa banner “Surabaya bangkitlah” (CITY SHAKERS COMMUNITY SURABAYA), pembawa peta Surabaya (MENARA DOA), pembawa mahkota dan tamborin(AOC&MAHANAIM), barisan penari(MAWAR SHARON,DLL), barisan becak, barisan petani buah dan sayuran, barisan profesi, barisan drum band, dll.

Rute arak-arakan memiliki 6 pemberhentian, dari Tugu Pahlawan menuju Kebonrojo, Gubenuran, Kramat Gantung, Gemblongan, Hotel Majapahit, Grahadi, DPRD Kota Surabaya, Taman Surya, Pemkot Surabaya. Di tempat pemberhentian ini peserta arak-arakan berdoa buat pemerintahan dan tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Di setiap pemberhentian peserta arak-arakan membagikan kepada masyarakat sekitar apa yang dibawa (permen, buah-buahan, sayur-sayuran, roti, minuman) sebagai tindakan profetik, menyuguhkan tari-tarian, menyeru-nyerukan dengan lantang tulisan yang tercetak di papan-papan plakat yang diusung (Surabaya damai… Surabaya bersih… Surabaya Aman…)

Pukul 17.30 WIB arak-arakan massa berkumpul di Balai kota. Pawai diakhiri dengan semua peserta membuat lingkaran dengan bergandengan tangan berdoa bersama untuk Surabaya dengan penumpangan tangan di atas peta Surabaya. Diiringi dengan tari-tarian, peserta bergilir berdoa secara profetis dan menyerukan berbagai macam kata-kata yang membangun (positif) untuk kota Surabaya. Doa bersama ini adalah sebuah tindakan iman untuk menyerahkan Surabaya ke tangan Tuhan (seperti Raja Daud yang membawa tabut Tuhan)

Menutup acara, Yusuf Sutrisno, Wakil Ketua II Panitia Penyelenggara menerangkan kerinduan gereja Tuhan, “Kami ingin membangkitkan semangat perjuangan dalam diri anak-anak muda untuk membangun kota Surabaya lebih baik”. Selanjutnya, Wakil Walikota Arif Affandi meneguhkan dengan berkata, “Perjuangan untuk kedamaian kota Surabaya memang bukan tanggung jawab pemerintah kota saja, tetapi tanggung jawab kita bersama.”

Sebagai gereja Tuhan, sudah tidak sepatutnya lagi kita bertanya apa yang dapat diberikan pemerintah kota Surabaya kepada kita, tetapi ini saatnya kita bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat kita berikan kepada Surabaya dan bangkit menjawab kebutuhan kota tercinta.
Gbu

Comments are closed.